Indonesia Catat Surplus Transaksi Berjalan Pertama dalam 2½ Tahun

2025-11-20 03:09 Chusnul Chotimah Waktu baca 1 menit
Indonesia mencatat surplus transaksi berjalan sebesar USD 4,0 miliar pada Q3 2025 (1,1% dari PDB), beralih dari defisit USD 2,0 miliar pada kuartal yang sama tahun 2024. Ini menandai surplus transaksi berjalan pertama negara tersebut sejak Q1 2023 dan yang terbesar sejak Q3 2022, karena surplus perdagangan melonjak menjadi USD 16,1 miliar, naik dari USD 9,2 miliar, didukung oleh peningkatan surplus perdagangan non-migas. Surplus pendapatan sekunder juga meningkat menjadi USD 1,7 miliar, dari USD 1,5 miliar. Sementara itu, defisit pendapatan primer sedikit melebar menjadi USD 9,4 miliar, dibandingkan dengan USD 8,5 miliar setahun sebelumnya, sementara defisit neraca jasa naik sedikit menjadi USD 4,3 miliar dari USD 4,2 miliar. Tahun lalu, defisit transaksi berjalan melebar secara signifikan menjadi USD 8,7 miliar, naik dari USD 2,0 miliar pada 2023, didorong oleh penurunan surplus perdagangan di tengah permintaan luar negeri yang lesu. Untuk tahun ini, bank sentral memperkirakan transaksi berjalan berada dalam kisaran surplus 0,1% hingga defisit 0,7% dari PDB.


Berita
Defisit Transaksi Berjalan Indonesia Q4 Melebar
Defisit transaksi berjalan Indonesia melebar menjadi USD 2,54 miliar pada Q4 2025 dari USD 1,14 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Hasil terbaru setara dengan 0,7% dari PDB negara, berayun dari surplus pada Q3, yang menandai kenaikan pertama sejak Q1 2023. Defisit pendapatan primer meningkat menjadi USD 9,59 miliar dari USD 8,96 miliar pada tahun sebelumnya. Selain itu, surplus barang menyempit menjadi USD 10,16 miliar dari USD 11,30 miliar, terutama karena kekurangan perdagangan minyak yang lebih lebar. Pada saat yang sama, defisit jasa mereda menjadi USD 4,87 miliar dari USD 5,10 miliar, sementara surplus pendapatan sekunder naik tipis menjadi USD 1,76 miliar dari USD 1,62 miliar. Untuk keseluruhan tahun, kesenjangan transaksi berjalan menyusut tajam menjadi USD 1,45 miliar dari USD 8,58 miliar pada 2024, setara dengan 0,1% dari PDB, menandakan perbaikan yang signifikan dalam posisi eksternal Indonesia. Pada 2026, bank sentral memperkirakan defisit transaksi berjalan berada dalam kisaran 0,1% hingga 0,9% dari PDB.
2026-02-20
Indonesia Catat Surplus Transaksi Berjalan Pertama dalam 2½ Tahun
Indonesia mencatat surplus transaksi berjalan sebesar USD 4,0 miliar pada Q3 2025 (1,1% dari PDB), beralih dari defisit USD 2,0 miliar pada kuartal yang sama tahun 2024. Ini menandai surplus transaksi berjalan pertama negara tersebut sejak Q1 2023 dan yang terbesar sejak Q3 2022, karena surplus perdagangan melonjak menjadi USD 16,1 miliar, naik dari USD 9,2 miliar, didukung oleh peningkatan surplus perdagangan non-migas. Surplus pendapatan sekunder juga meningkat menjadi USD 1,7 miliar, dari USD 1,5 miliar. Sementara itu, defisit pendapatan primer sedikit melebar menjadi USD 9,4 miliar, dibandingkan dengan USD 8,5 miliar setahun sebelumnya, sementara defisit neraca jasa naik sedikit menjadi USD 4,3 miliar dari USD 4,2 miliar. Tahun lalu, defisit transaksi berjalan melebar secara signifikan menjadi USD 8,7 miliar, naik dari USD 2,0 miliar pada 2023, didorong oleh penurunan surplus perdagangan di tengah permintaan luar negeri yang lesu. Untuk tahun ini, bank sentral memperkirakan transaksi berjalan berada dalam kisaran surplus 0,1% hingga defisit 0,7% dari PDB.
2025-11-20
Deisit Neraca Berjalan Indonesia KW II Terbesar dalam Setahun
Defisit neraca berjalan Indonesia berada pada USD 3,0 miliar di Kuartal II (KW) 2025, tidak berubah dari kuartal yang sama pada 2024. Ini menandai kuartal kesembilan berturut-turut dengan defisit dan kesenjangan terbesar sejak KW II 2024, ketika defisit juga USD 3,0 miliar, setara dengan 0,8% dari PDB negara. Defisit pendapatan primer sedikit meningkat menjadi USD 9,83 miliar dari USD 9,45 miliar setahun sebelumnya, sementara defisit rekening jasa menyempit menjadi USD 5,51 miliar dari USD 5,99 miliar. Sementara itu, surplus perdagangan naik menjadi USD 10,58 miliar, naik dari USD 9,99 miliar, dan surplus pendapatan sekunder meningkat menjadi USD 1,74 miliar dari USD 1,43 miliar. Tahun lalu, defisit neraca berjalan melebar secara signifikan menjadi USD 8,68 miliar, naik dari USD 2,04 miliar pada 2023, didorong oleh penurunan surplus perdagangan di tengah permintaan asing yang meredup. Untuk tahun ini, bank sentral memperkirakan defisit neraca berjalan tetap dalam kisaran 0,5%–1,3% dari PDB.
2025-08-21