Kekuatan Dolar Menekan Rupiah, BI Tetap Melonggarkan Kebijakan

2026-01-14 07:21 Farida Husna Waktu baca 1 menit
Rupiah Indonesia melayang di sekitar IDR 16.870 per dolar pada hari Rabu setelah sempat menguat ke 16.835 pada sesi sebelumnya, tetap mendekati posisi terendah beberapa bulan. Tekanan berlanjut saat indeks dolar AS mendekati level tertinggi sejak awal Desember, dengan data inflasi memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tidak berubah pada pertemuan mendatang. Di dalam negeri, Bank Indonesia akan mengadakan pertemuan kebijakan pertama tahun ini akhir bulan ini, dengan prospek pelonggaran lebih lanjut yang jelas terbuka. Pejabat terus memberikan sinyal kesiapan untuk mendukung pertumbuhan, terutama karena pemulihan bencana di Sumatra membebani sumber daya fiskal. Antara September 2024 dan September 2025, bank sentral memangkas suku bunga secara kumulatif sebesar 150bps, didukung oleh inflasi yang terkendali. Sementara itu, data terbaru menunjukkan konsumsi musiman meningkatkan aktivitas ritel pada bulan November, meskipun sentimen tetap rapuh. Hambatan eksternal juga berlanjut, karena ekspor yang melambat menyoroti permintaan yang lebih lemah dari mitra utama, terutama China dan Jepang.


Berita
Rupiah Menghadapi Bias Penurunan Berkelanjutan
Rupiah Indonesia melayang di sekitar rekor terendah IDR 17.100 per dolar pada hari Jumat, memperpanjang penurunannya baru-baru ini karena kekuatan dolar AS yang luas membebani menjelang pembicaraan AS-Iran dan data CPI Maret. Tekanan eksternal diperkuat oleh kekhawatiran atas arus keluar modal setelah Bank Dunia memangkas perkiraan pertumbuhan Indonesia tahun 2026, meskipun Menteri Keuangan Purbaya Yudhi berpendapat bahwa penurunan tersebut mengabaikan langkah-langkah dukungan pemerintah. Mata uang lokal berada di jalur penurunan mingguan kedua, turun sekitar 0,6% sejauh ini, karena keraguan atas ketahanan terhadap guncangan asing terus berlanjut. Fundamental domestik juga melemah, dengan suasana konsumen mencapai titik terendah lima bulan pada bulan Maret, cadangan devisa mendekati titik terendah dua tahun, dan surplus perdagangan yang lebih sempit. Sementara inflasi mereda, harga minyak yang bergejolak terus menimbulkan risiko, bersama dengan tekanan fiskal dari program utama Presiden Prabowo. Bank Indonesia telah melakukan intervensi dan siap untuk menggunakan alat lebih lanjut, menekankan bahwa kelemahan rupiah sebagian besar berasal dari faktor global.
2026-04-10
Rupiah Tetap Rentan saat Risiko Eksternal dan Fiskal Meningkat
Rupiah Indonesia diperdagangkan sekitar IDR 17.070 per dolar pada Kamis, bertahan di atas level kunci 17.000 untuk sesi keempat berturut-turut setelah baru-baru ini menyentuh rekor terendah sekitar 17.100. Mata uang lokal tetap tertekan oleh indeks dolar yang kuat, karena gencatan senjata yang rentan antara AS dan Iran membuat sentimen global berhati-hati. Sementara itu, kekhawatiran terhadap ketahanan Indonesia terhadap guncangan eksternal terus berlanjut. Cadangan devisa Maret turun ke level terendah dalam hampir dua tahun, dan surplus perdagangan Februari menyempit, menandakan penyangga eksternal yang lebih lemah. Pada saat yang sama, paparan terhadap harga minyak global yang bergejolak terus menimbulkan risiko terhadap stabilitas fiskal. Meskipun pemerintah mengatakan memiliki ruang untuk mengelola biaya energi yang lebih tinggi, pemerintahan Presiden Prabowo dilaporkan sedang mengkalibrasi ulang kebijakan di tengah inflasi yang meningkat dan kekhawatiran pasokan. Sementara itu, bank sentral mempertahankan fokusnya pada meredakan volatilitas daripada mempertahankan tingkat nilai tukar tertentu dengan semua alat kebijakan yang tersedia.
2026-04-09
Rupiah Bertahan Dekat Level Terendah Sepanjang Sejarah saat Penyangga Eksternal Menipis
Rupiah Indonesia melayang di sekitar IDR 17.020 per dolar pada Rabu, setelah sempat merosot ke rekor terendah sekitar IDR 17.100 pada sesi sebelumnya. Sentimen tetap rapuh meskipun ada penurunan tajam dalam indeks dolar, setelah Presiden AS Trump memutuskan untuk menunda potensi serangan ke Iran selama dua pekan. Secara lokal, Indonesia tetap terpapar pada fluktuasi harga minyak global, yang terus menimbulkan risiko fiskal dengan meningkatkan biaya subsidi energi. Bantalan eksternal juga melemah, dengan cadangan devisa Maret jatuh ke level terendah dalam hampir dua tahun, membatasi kemampuan negara untuk menyerap guncangan eksternal. Meski begitu, Jakarta bersikeras bahwa mereka masih memiliki ruang fiskal, dengan menyebutkan adanya "penyangga" untuk mengelola kenaikan biaya energi. Sementara itu, Bank Indonesia menegaskan kembali bahwa menstabilkan rupiah dan mengekang volatilitas yang berlebihan adalah prioritas utamanya, menambahkan bahwa mereka telah melakukan intervensi dan siap menggunakan semua alat kebijakan yang tersedia. Bank sentral menambahkan bahwa kelemahan mata uang sebagian besar didorong oleh faktor global.
2026-04-08